Dandim 0302/Inhu Turunkan Personel Lakukan Pemadaman Karhutla Di Desa Sei Guntung Hilir, Diharapkan Tingkatkan Kesiapsiagaan

SUARALIRA.COM, INHU – Selama sepekan, tim gabungan yang terdiri atas personel TNI dari Kodim 0302/Ingu-Kuansing, Polri, BPBD, Manggala Agni, dan unsur terkait terus berjibaku melakukan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau.

Hingga Rabu,(11/8/2026,) penanggulangan karhutla masih berlangsung di Desa Sungai Guntung Hilir, Kecamatan Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu. Kegiatan tersebut dilakukan untuk memadamkan titik api sekaligus melaksanakan pendinginan guna mencegah api kembali muncul.

Kebakaran terjadi di lahan masyarakat yang ditumbuhi vegetasi berupa semak belukar dan anakan kayu. Kondisi tanah di lokasi merupakan lahan gambut dengan topografi datar. Api membakar bagian bawah dan permukaan lahan dengan ketinggian mencapai sekitar satu meter.

Berdasarkan pantauan di lapangan dan perkembangan penanganan karhutla, titik kebakaran masih terus menjadi perhatian karena berpotensi meluas. Kondisi cuaca yang panas dan angin kencang juga menjadi tantangan tersendiri bagi tim gabungan dalam melakukan pemadaman.

Situasi tersebut mendapat perhatian serius dari jajaran Kodim 0302/Inhu-Kuansing. Puluhan personel dikerahkan untuk melakukan penanggulangan sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan terhadap kemungkinan munculnya titik api baru maupun pergerakan api ke wilayah lain.

Komandan Kodim 0302/Inhu-Kuansing, Letkol Arh Bangun Bara Kurniawan Prabowo, S.E., M.I.P., kepada suaralira.com secara terpisah ia mengatakan pihaknya telah memerintahkan personel untuk segera turun ke lokasi karhutla guna membantu proses penanganan.

“Personel Kodim 0302/Inhu sudah menurunkan puluhan personel untuk melakukan peninjauan kondisi wilayah, mengecek kesiapan personel, sekaligus melaksanakan pemadaman di lokasi. Saat ini personel masih berjibaku melakukan pemadaman,” ujar Dandim.

Menurutnya, kesiapsiagaan personel harus terus dijaga mengingat kondisi karhutla di wilayah tersebut masih membutuhkan perhatian. Selain melakukan pemadaman, personel juga terus memantau perkembangan situasi dan kemungkinan munculnya titik api baru.

“Diharapkan seluruh personel harus dalam kondisi siap. Situasi karhutla harus terus dipantau karena masih ada informasi titik yang terbakar di wilayah tersebut. Kondisi medan juga tidak mudah dijangkau. Namun, upaya tetap dilakukan oleh personel untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya titik api baru,” tegasnya.

Dandim menambahkan, kondisi pascakebakaran juga harus menjadi perhatian. Perubahan arah angin serta kondisi vegetasi yang kering dapat memengaruhi perkembangan api dan berpotensi menyebabkan kebakaran kembali meluas.

“Yang kita jaga adalah jangan sampai muncul titik api baru dan kemudian berkembang tanpa terpantau, maka perlu Kesiapsiagaan harus tetap dilakukan,” pesannya.

Selain melakukan penanganan di lokasi, Dandim juga mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Masyarakat diminta segera melaporkan kepada aparat maupun instansi terkait apabila menemukan titik api agar dapat ditangani dengan cepat dan tepat.

“Partisipasi aktif masyarakat merupakan salah satu faktor penting dalam upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan. Dengan kesadaran dan kepedulian bersama, kita berharap risiko terjadinya karhutla dapat diminimalkan,” katanya.

Menurutnya, kebakaran hutan dan lahan tidak hanya berpotensi menimbulkan kerugian bagi masyarakat, tetapi juga dapat merusak lingkungan serta mengganggu aktivitas masyarakat apabila tidak segera ditangani.

Untuk itu, sinergi antara TNI, pemerintah daerah, BPBD, Manggala Agni, Kepolisian, dan berbagai unsur terkait lainnya perlu terus diperkuat. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mempercepat penanganan setiap kejadian karhutla secara tepat dan efektif.

Koordinasi antarpihak juga diperlukan agar setiap perkembangan karhutla dapat diketahui lebih cepat sehingga langkah penanganan dapat segera dilakukan. Pengawasan terhadap kawasan yang telah terbakar maupun wilayah yang berpotensi terbakar harus tetap dilakukan secara berkelanjutan.

Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla belum dapat dianggap selesai hanya karena api di sejumlah lokasi telah berhasil dikendalikan. Pemantauan dan kesiapsiagaan tetap diperlukan untuk memastikan tidak terjadi penyebaran api maupun munculnya titik api baru.(Prasetiyo)