Aroma Tak Sedap Kembali Menguak, BASMI Desak Pergantian Kalapas Pekanbaru

PEKANBARU, Suaralira.com – Dugaan pencemaran lingkungan kembali menyeret nama Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Pekanbaru. Aroma tak sedap yang menyengat dilaporkan kembali muncul di kawasan sekitar lapas dan diduga berasal dari pengelolaan limbah septic tank yang mengalir ke saluran drainase di sekitar permukiman warga.
 
Persoalan ini bukan kali pertama menjadi sorotan. Sebelumnya, pada 30 Maret 2026, masyarakat telah menyampaikan keluhan terkait dugaan bau menyengat yang diduga bersumber dari sistem pengelolaan limbah septic tank di lingkungan Lapas Kelas IIA Pekanbaru. Keluhan tersebut sempat menjadi perhatian publik setelah ramai diberitakan berbagai media.
 
Kala itu, pihak Lapas melalui Kalapas Pekanbaru menyatakan telah mengambil langkah penanganan awal secara cepat. Namun, setelah lebih dari tiga bulan berlalu, keluhan serupa kembali muncul sehingga memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas penanganan yang telah dilakukan.
 
Ketua Barisan Masyarakat Bersih dari Korupsi (BASMI) Riau, Fadli, menilai persoalan dugaan limbah tersebut tidak boleh dipandang sebagai masalah biasa. Menurutnya, apabila benar terjadi pencemaran limbah domestik, dampaknya dapat mengganggu kesehatan masyarakat serta mencemari lingkungan di sekitar lapas.
 
"Saat kami turun langsung ke lokasi pada Jumat (24/7/2026), kami melihat aliran air di selokan sekitar lapas berwarna kekuningan dan tercium aroma yang sangat menyengat. Keluhan juga disampaikan warga sekitar maupun para pengendara yang melintas di kawasan tersebut," ujar Fadli.
 
Fadli juga mengaku menemukan kondisi yang menurutnya patut menjadi perhatian. Ia menduga terdapat upaya menutup aliran drainase di bagian depan kawasan lapas sehingga aliran air tidak tampak mengalir di titik tersebut. Menurutnya, kondisi itu perlu diklarifikasi oleh pihak berwenang agar tidak menimbulkan berbagai spekulasi di tengah masyarakat.
 
Atas kondisi tersebut, BASMI Riau mendesak Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja Kalapas Kelas IIA Pekanbaru, Yuniarto. BASMI menilai evaluasi diperlukan mengingat sejumlah persoalan yang belakangan menjadi perhatian publik di lingkungan lapas tersebut.
 
Selain dugaan persoalan limbah, BASMI juga menyinggung insiden kaburnya seorang narapidana saat menjalani perawatan di RS PMC Pekanbaru. Menurut organisasi tersebut, akumulasi berbagai persoalan itu menjadi alasan perlunya pembenahan tata kelola serta kepemimpinan di Lapas Kelas IIA Pekanbaru.
 
"Bila berbagai persoalan terus berulang tanpa penyelesaian yang jelas, maka sudah saatnya dilakukan evaluasi secara menyeluruh. Kepemimpinan yang tidak mampu menghadirkan tata kelola yang baik hanya akan berdampak pada menurunnya kepercayaan publik terhadap institusi," tutup Fadli.
 
Kalapas Pekanbaru, Yuniarto saat dikonfirmasi melalui humas Lapas Pekanbaru, Jopri Sinaga mengatakan, Sejauh ini kami udah menambah saluran penampungan baru juga di dalam, dan tetap melakukan penyedotan juga 2 kali sebulan untuk mengurangi volumenya. Memang solusi ini mungkin belum cukup makanya kami sekarang lagi tetap berkoordinasi dengan dinas terkait untuk mempercepat pembangunan IPAL di lapas. Karena ipal mrmang solusi terbaiknya. Tapi kan itu ada prosesnya makanya sekarang ini sedang di kerjain kok bang terkait itu," jelas Jopri kepada media ini, Jumat (25/7/26). 
 
(Zha)