Dandim 0303/Inhu Hadiri Rapat Pemantapan Perkuat Koordinasi Penanganan Karhutla

SUARALIRA.COM, RENGAT — Pemerintah Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) menggelar Rapat Pemantapan Koordinasi Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Gedung Dang Purnama, Kelurahan Sekip Hulu, Kecamatan Rengat, Rabu (26/8/2026).
 
Rapat tersebut dihadiri Wakil Bupati Inhu Ir. H. Hendrizal, M.Si., Dandim 0302/Inhu Letkol Arh Bangun Bara Kurniawan Prabowo, S.E., M.I.P., Ketua DPRD Inhu Sabtu Pradansyah Sinurat, Wakapolres Inhu Kompol Lassarus Sinaga, S.H., M.H., serta unsur Forkopimda, BMKG, Manggala Agni, OPD, camat, kepala desa, lurah, dan stakeholder terkait.
 
Rapat digelar untuk memperkuat koordinasi lintas sektor sekaligus mengevaluasi dan menyusun langkah strategis dalam pencegahan serta penanganan Karhutla di Kabupaten Inhu.
 
Dalam pemaparannya, Kepala Pelaksana BNPB-PKP Kabupaten Inhu Mulyadi, S.Sos., menyampaikan bahwa pemerintah daerah telah melakukan berbagai langkah antisipasi sejak awal tahun. Di antaranya menetapkan status siaga Karhutla, membentuk pos komando pengendalian Karhutla, melaksanakan patroli rutin, pengecekan peralatan, serta memberikan imbauan kepada masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.
 
Berdasarkan data yang disampaikan, dari 14 kecamatan di Kabupaten Inhu, sebanyak 13 kecamatan telah mengalami kejadian Karhutla. Hanya Kecamatan Lubuk Batu Jaya yang hingga saat ini belum tercatat mengalami kebakaran.
 
Karhutla masih terjadi di Desa Sungai Guntung Hilir, Kecamatan Rengat, serta Kecamatan Batang Cenaku. Bahkan, kebakaran di Batang Cenaku telah masuk ke kawasan Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT). Secara keseluruhan, luas lahan yang terbakar di Kabupaten Inhu tercatat sekitar 521,27 hektare.
 
Penanganan Karhutla dilakukan secara bersama oleh Polres Inhu, Kodim 0302/Inhu, Brimob, Yon TP 850/SC, Manggala Agni, BPBD-PKP, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, serta unsur terkait lainnya.
 
Sementara itu, Pengamat Meteorologi Geofisika BMKG Japura Rengat Januar Rahmad Pratama, S.Tr., menjelaskan bahwa kondisi cuaca masih perlu diwaspadai. Fenomena El Nino dan IOD positif berpotensi menyebabkan berkurangnya suplai uap air sehingga kondisi wilayah menjadi lebih kering.
 
BMKG memprakirakan curah hujan di Kabupaten Inhu pada September 2026 berada pada kategori rendah hingga menengah, sekitar 50–150 milimeter per bulan. Pada Oktober diprakirakan berada pada kategori menengah, yakni 100–200 milimeter per bulan, sedangkan November diprakirakan mencapai 200–300 milimeter per bulan.
 
Masyarakat dan seluruh stakeholder diimbau memperoleh informasi cuaca dan peringatan dini hanya melalui sumber resmi BMKG.
 
Dari sektor kesehatan, Dinas Kesehatan Kabupaten Inhu menyampaikan bahwa asap Karhutla dapat berdampak terhadap kesehatan masyarakat, antara lain meningkatkan risiko ISPA, asma, iritasi mata, pneumonia, memburuknya PPOK, serta penyakit kardiovaskular.
 
Berdasarkan data Januari hingga Juli 2026, tercatat 10.843 kasus ISPA di Kabupaten Inhu. Kasus tertinggi tercatat di wilayah kerja Puskesmas Kampung Besar Kota sebanyak 1.807 kasus. Pada minggu ke-32, terdapat 531 kasus, meningkat dari 502 kasus pada minggu sebelumnya.
 
Wakil Bupati Inhu Ir. H. Hendrizal, M.Si., menegaskan bahwa penanganan Karhutla membutuhkan kerja sama seluruh pihak.
 
“Dari 14 kecamatan, 13 kecamatan telah mengalami kejadian Karhutla. Ini menjadi alarm bagi kita semua untuk meningkatkan upaya antisipasi dan penanganan,” ujarnya.
 
Ia meminta para camat memperkuat koordinasi dengan Forkopimcam, pemerintah desa dan kelurahan, serta menggerakkan seluruh elemen masyarakat agar dapat melakukan pencegahan dan penanganan secara cepat.
 
Wakil Bupati juga meminta agar edukasi kepada masyarakat terus dilakukan, khususnya terkait larangan membuka lahan dengan cara membakar. Apabila ditemukan titik kebakaran, masyarakat diminta segera memberikan informasi kepada tim Satgas Karhutla untuk mendapatkan penanganan.
 
Dalam sesi diskusi, Camat Batang Cenaku Badauwani, S.Sos., menyampaikan bahwa kondisi medan yang berbukit dan sulit dijangkau serta terbatasnya sumber air menjadi kendala dalam pemadaman Karhutla. Ia mengusulkan dukungan water bombing untuk membantu penanganan.
 
Sementara itu, Kepala Desa Tanjung Sari mengusulkan pembangunan embung sebagai sumber air untuk mendukung penanganan Karhutla di wilayahnya.
 
Dandim 0302/Inhu Letkol Arh Bangun Bara Kurniawan Prabowo menyatakan kesiapan TNI untuk mendukung penanganan Karhutla bersama seluruh pihak.
 
“Penanganan Karhutla tidak bisa dilakukan sendiri. Harus bersama-sama. Jika Desa Tanjung Sari membutuhkan embung, kami siap membantu melalui Babinsa. Yang terpenting, lokasi lahannya disiapkan,” katanya.
 
Dandim juga meminta pemerintah desa melaporkan apabila terdapat perusahaan yang belum membantu penanganan Karhutla agar dapat dikoordinasikan dengan pihak terkait.
 
Dari aspek penegakan hukum, Wakapolres Inhu menegaskan bahwa kepolisian terus melakukan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat. Setiap kejadian Karhutla akan ditindaklanjuti melalui penyelidikan untuk mengetahui penyebab serta pihak yang bertanggung jawab.
 
Kasubsi Tipidum Kejari Inhu Rici Ferdiansyah Amri, S.H., juga menyampaikan bahwa pada Agustus 2026 telah terdapat tiga tersangka dalam perkara Karhutla. Penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran hutan dan lahan akan terus dilakukan.
 
Dalam kegiatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Inhu juga menyerahkan masker kepada para camat se-Kabupaten Inhu sebagai salah satu bentuk upaya perlindungan masyarakat dari dampak asap Karhutla.
 
Rapat kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan penyampaian masukan dari peserta. Seluruh pihak sepakat meningkatkan deteksi dini dan cegah dini, memperkuat koordinasi lintas sektor, serta meningkatkan peran aktif masyarakat dalam pencegahan Karhutla.
 
Dengan semangat “Inhu Bersatu Melawan Karhutla”, seluruh unsur di Kabupaten Inhu berkomitmen memperkuat sinergi dalam mencegah dan menangani kebakaran hutan dan lahan.(Pras)